Rabu, 24 Oktober 2012

PASCA PANEN BUNGA POTONG


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penanganan pasca panen terhadap bunga potong sangat berperan penting terutama di dalam hal memperpanjang kesegaran dan vaselife dari bunga potong. Hal yang sering menjadi permasalahan utama adalah, sesaat setelah bunga dipanen, akan mengalami kelayuan, senescence (menguning, coklat) dan absisi (gugur). Oleh karenanya, diperlukan suatu penanganan pasca panen yang tepat untuk mempertahankan kesegaran bunga dan diharapkan dengan adanya beberapa perlakuan khusus dapat memperpanjang vaselife dari bunga potong tersebut.
Kerusakan bunga setelah dipanen dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan asal tanaman bunga tersebut. Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh adalah suhu, kelembaban dan air, sedangkan dari tanamannya adalah makanan (metabolit) dan hormon endogen. Hormon endogen yang sangat berpengaruh terhadap bunga adalah etilen untuk senescence dan ABA ( Absisic Acid ) untuk gugurnya bunga tersebut. Baik waktu masih berada di tanaman maupun pada saat bunga berpisah dari induknya, hormon-hormon inhibitor menjadi lebih dominan bekerjanya dibandingkan dengan promotor. Dalam hal ini, etilen dan ABA bekerja cukup aktif bilamana tidak dikendalikan.
Berbagai macam perlakuan pasca panen dapat mengurangi waktu kerusakan bunga setelah dipanen. Selain perlakuan bahan kimia, perlakuan pengaturan lingkungan seperti suhu sangat berpengaruh terhadap lamanya masa kesegaran bunga. Suhu rendah sekitar  4-50C dapat menunda kelayuan bunga. Penyediaan karbohidrat sebagai sumber energi diperlukan sebagai bahan formula pengawet. Demikian halnya dengan bahan penghambat kerjanya etilen, dan bakterisida sebagai pencegah timbulnya penyakit yang sangat dibutuhkan agar kesegaran bunga dapat diperpanjang waktunya.
Upaya penanggulangan secara kimia dengan menggunakan larutan pengawet biasanya terdiri dari bahan-bahan sumber energi, penurun pH, bakterisida, senyawa anti etilen. Sumber energi yang digunakan umumnya sukrosa, tetapi glukosa, fruktosa juga efektif. Gula berperan dalam kesegaran kuncup bunga karena menyediakan karbohidrat yang digunakan dalam pertumbuhan dan pemekaran kuncup bunga.
Keadaan pH yang rendah dapat menanggulangi bunga terhadap serangan bakteri. Bahan penurun pH yang banyak digunakan adalah asam sitrat karena tidak menurunkan pH terlalu rendah dan bekerjanya lebih cepat. Pada pH 3-4 penyerapan air baik, tidak terjadi embolism.Yang dimaksud dengan embolism adalah terperangkapnya gelembung udara dalam xilem pada tangkai bunga. Pemberian asam sitrat hingga pH mencapai 3-4 akan menyebabkan berkurangnya perkembangbiakan bakteri, karena pH 3-4 bakteri tidak tahan hidup.
Pada bunga sedap malam, Menurut Naidu dan Reid (1989), penggunaan larutan 2 % sukrose sebagai pre treatment atau pulsing selama 15-20 jam atau dengan 1,5 % larutan pengawet bunga, akan memperpanjang kesegaran bunga. Penggunaan larutan penyegar yang terdiri dari 3% sukrose, 0,03 % 8-hydroxyquinoline citrate dan 0,01 % silver nitrate yang dilarutkan dalam air destilasi akan meningkatkan jumlah kucup yang membuka dan mengurangi gugurnya bunga dan meningkatkan ketahanan bunga (Khondakar dan Mazumdar, 1985 dalam Naidu and Reid, 1989). Larutan penyegar pulsing 1,5 % gula + 200 ppm Sodium benzoat meningkatkan jumlah kuncup mekar dan ketahanan bunga sampai  7 hari (Suyanti et al dalam Muhajir et al., 2001). Sedangkan menurut Sunarmani et al., (1997), 300 ppm Na-benzoat sebagai larutan holding efektif memperpanjang kesegaran bunga sampai 7,9 hari demikian pula larutan holding 2 % gula+ 200 ppm AgNO3 mampu mempertahankan kesegaran bunga sampai 9 hari ( Muhajir dam Tisnawati et al dalam Muhajir et al., 2001).
Untuk bunga potong seperti Calla Lily, Mawar, Gerbera, Snapdragon, untuk memperpanjang kesegaran bunga yaitu dengan ditambahkan 40 g gula/liter dan 100 ppm 8-hydroxy quinoline citrate. Bunga yang dipanen dapat segera dimasukkan ke dalam larutan tersebut selama 8-12 jam.
1.2 Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah mahasiswa mampu mengetahui teknik penanganan pasca panen bunga potong dan mampu melakukannya.





BAB II
METODOLOGI

2.1 Tempat Dan Waktu
Adapun tempat waktu praktikum kali ini yaitu antara lain sebagai berikut :
Hari dan Tanggal : Senin,   Juni 2012
Pukul : 10.00 – 12.00 WIB
Tempat : Laboratorium Teknologi Benih, Fakultas Pertanian    Uniersitas Jambi.

2.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan pada praktikum kali ini yaitu antara lain sebagai berikut :
Alat
Gunting / cutter
Bak/ember plastik
Botol Aqua
Bahan
Bunga potong segar
Air
Gula
Garam
Cuka
Asam Sitrat
Bayclin
Zat Preservative Buatan  (Floralife/ Krysal)

2.3 Cara Kerja
1. Mempersiapkan Alat dan Bahan
2. Gunting tangkai bunga potong yang masih segar di dalam air yang berada di dalam ember
3. Masukkan tangkai bunga ke dalam masing-masing botol aqua sesuai dengan perlakuan masing-masing.
4. Amati vaselife selama 2 hari sekali, untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesegaran bunga potong tersebut.

















BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Tabel Pengamatan
Nama tanaman Perlakuan Konsentrasi Hasil
Alamanda cathartica Gula 5% Daun layu, daun berwarna hitam
10% Daun layu, daun berwarna hitan dan kering
15% Daun layu, batang layu, daun berwarna hitam dan kering
Cuka 5% Semua layu, batang dan daun layu, berwarna hitam dan kering
10% Semua layu, batang dan daun layu, berwarna hitam dan kering
15% Semua layu, batang dan daun layu, berwarna hitam dan kering
Bayclin 5% Daun layu
10% Daun layu
15% Daun gugur dan layu
Kontrol 0% Daun layu
Keterangan : Beri tanda V apabila kondisi bunga masih prima (tangkai tegak, petal bunga segar)








3.2 Pembahasan
Pada percobaan pasca panen bungga potong pada perlakua berbagai macam seperti pemberian larutan gula, beyclean, cuka mengalami kelayuan pada bungga potong, ini disebabkan karena bungga potong tidak dapat terpenuhi kebutuhannya pada kondisi tersebut dengan perlakuan diatas, akan tetapi pada perlakuan beyclean dengan konsentrasi 5 dan 10 % daun hanya mengalami layu daun saja, sedangkan pada konsentrasi 15 mengalami gugur daun dan layu daun.
Pada larutan gula dengan kosentrasi 5% kondisi tanaman mengalami layu daun dan juga daun berwarna kuning, dan pada kondisi 10% tanaman mengalami layu daun, kuning daun, sedangkan pada kondisi 115% tanaman mengalami layu daun, kuning daun dan batang juga berwarna hitan.
Pada perlakuan pemberian cuka hampir semua tanaman mengalami hal yang sama baik dalam konsentrasi yang berbeda yaitu Semua layu, batang dan daun layu, berwarna hitam dan kering.













LAPORAN PRAKTIKUM PASCA PANEN STANDAR MUTU BENIH



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Rangkaian bunga eksotis juga dapat dijadikan sebagai hadiah untuk seseorang yang berulang tahun. Sebuket bunga ataupun rangkaian bunga dalam vas tentunya akan menambah kebahagiaan orang yang menerimanya. Bunga Anyelir yang berukuran kecil dapat dijadikan sebagai hiasan pada kue ulang tahun, yang mengitari kue tersebut. Pada pesta ulang tahun, bunga juga dapat dijadikan dekorasi, yang dapat dihias dengan balon. Bunga yang dapat dipilih adalah kesegaran dan keceriaan warna-warna dari bunga Mawar, Anyelir, Aster, serta bunga Matahari.

Teknik dan Gaya merangkai Bunga
Gaya merangkai bunga sekarang lebih bebas, terutama setelah perkebunan perkebunan bunga potong makin marak. Aneka bunga khas eropa kini sudah dibudidayakan di Indonesia mekipun beberapa memang masih harus di impor. Campuran bunga dan dedaunan pun tidak dibatasi. Asal komposisi bentuk dan warnanya sepadan. Yang nampak jelas rangkaian gaya Eropa mulai merebut peringkat popular. Dari yang minimalis dan sederhana hingga yang semarak terdiri dari dua tiga jenis bunga potong. Bahkan bunga dan dedaunan liar pun sekarang ini sah dipakai. Bentuk rangkaian bunga bisa bulat dan rapi, atau sedikit bulat sedikit tak beraturan, lonjong atau meninggi. Semuanya tergantung pada selera sang pencipta.
1. Memilih dan merawat bunga
Tidak semua jenis bunga kebun dapat dimanfaatkan sebagai rangkaian bunga. Yang daya tahannya cukup lama biasanya dari keluarga heliconia dan jahe-jahean, bunga soka, mawar atau lantana. Tetapi bunga-bunga ini harus dipotong pagi hari sebelum matahari terbit atau sore hari setelah matahari terbenam, 1-2 jam sesudah tanamannya sediri disiram. Setelah dipotong, rendam 3 cm dari tangkai bunga bagian bawah sekurang-kurangnya 30 menit dalam air sebelum dirangkai.
2. Bunga beli
Jika membeli bunga potong di toko, maka mintalah agar bunga dibungkus dengan kertas Koran atao lembaran plastik bening supaya tetap lembab hingga tiba di rumah. Usahakan agar bunga tidak terlampau lama di perjalanan. Setiba dirumah, segera rendam ± 3 cm bagian tangkai bunga bagian bawah didalam ember berisi air dingin. Letakkan sejenak di tempat yang sejuk supaya bunga-bunga tersebut beradaptasi dengan lingkungan baru.
3. Memotong bunga
Potonglah tangkai bunga secara menyerong dengan pisau atau gunting yang tajam. Dengan cara ini permukaan bekas potongan tersebut cukup luas sehingga air dapat terisap dengan baik. Hasilnya kelopak-kelopak bunga dan dedaunan senantiasa segar. Hindarkan memotong bunga dengan pisau atau gunting yang tumpul hingga menggencet batang bunga. Ini mengakibatkan ujung tangkai menciut meski dipotong menyeron
4. Membersihkan tangkai
Seandainya bunga-bunga tersebut belum akan segera dirangkai, angkat dahulu daun-daun yang menempel di tangkai. Usahakan agar yang terendam di air hanyalah tangkai bunga. Daun-daun yang terendam di air biasanya cepat membusuk dan akan mengeluarkan sejenis gas yang nantinya terhisap oleh bunga dan bunga akan rusak. Buanglah daun-daun rusak yang berada dibawah bunga dengan gunting. Jaga agar batang bunga tidak terkelupas.
5. Merawat bunga layu
Meskipun sudah dirawat dengan baik kadang kala masih ada juga bunga yang terkulai. Bila ini terjadi, potong tangkai paling bawah ± 2,5 cm, kerudungi bunga dengan kertas Koran lalu celupkan tangkai bunga dalam air (bukan mendidih) selama ± 10 detik. Segera pindahkan dan rendam dengan air dingin. Terapi seperti ini kadangkali masih bisa dilakukan untuk menyelamatkan bunga.
6. Zat pengawet
Agar bunga tahan lebih lama, untuk rangkaian bunga dengan oasis, campurkan zat tersebut ketika merendamnya. Zat pengawet juga dapat dibuat sendiri. Larutkan 1 sendok teh cairan pemutih dengan 10 liter air.
7. Merawat rangkaian
Rangkaian bunga hanya menggunakan air, lebih mudah dirawat dan tahan lama. Ganti airnya setiap hari sambil mengangkat daun-daun atau bunga yang mulai membusuk. Jika ujung tangkai bunga bagian bawah mulai berlendir, cuci bersih, potong ± 1 cm. Memang tangkai bunga menjadi lebih pendek, tetapi juga lebih awet.
1.2 Tujuan
a. Mengetahui metode dan teknik merangkai bunga untuk meningkatkan nilai estetika dan nilai jual tanaman
b. Melatih praktikan untuk berani berkreasi dan bereksperimen















BAB II
METODOLOGI

2.1 Waktu Dan Tempat
Waktu dan tempat percobaan kali ini antara lain adalah sebagai berikut :
Hari dan Tanggal : Senin,  Mei 2012
Tempat : Laboratorium Teknologi Benih
Pukul : 10.00 – 12.00 WIB

2.2 Alat Dan Bahan
a. Wadah rangkaian : cangkir kopi, gayung plastik, poci the, wadah air minum, dll.
b. Oasis : agar bunga bisa berdiri sesuai dengan keinginan Anda, mau tidak mau dibutuhkan oasis (sejenis busa) yang dapat dibeli di toko peralatan merangkai bunga.
c. Lidi atau tusuk sate, dipakai misalnya untuk memperpanjang tangkai bunga sebelum ditancapkan ke oasis
d. Karet gelang, untuk menyatukan beberapa tangkai bunga atau dedaunan
e. Pisau atau gunting, untuk memotong oasis, tangkai bunga atau  dedaunan
f. Perekat bening/ selotip
g. Floral tape, bunga yang bermahkota besar kadangkala merupakan beban bagi tangkainya misalkan bunga gerbera sehingga mudah terkulai.

Ada dua jenis oasis :
1. Warna hijau, digunakan untuk merangkai bunga segar. Sebelumnya harus direndam air dahulu sampai oasis tidak mengeluarkan gelembung udara lagi (sebagai persediaan air untuk bunga)
2. Warna agak keabu-abuan, dipakai untuk merangkai bunga kering
2.3 Cara Kerja
1. Rendam oasis dalam air selama 3 jam, agar air masuk keseluruh pori    oasis
2. Potong oasis sesuai dengan ukuran dan bentuk wadah rangkaian dan tinggi 2 cm lebih tinggi dari wadah.
3. Memasang  daun-daun pendek untuk menutupi permukaan  Oasis dan tepi wadah
4. Memasang bunga-bunga yang berukuran besar sambil mengatur bentuk yang diinginkan.  Mulai dari titik tengah, selanjutnya tarik posisi simetri (arah mata angin)
5. Menyelipkan daun-daun yang agak tinggi diantaranya hingga bentuk sesungguhnya mulai terlihat
6. Menambahkan bunga-bunga ukuran lebih kecil (filler) agar penampilam lebih harmonis
7. Sentuhan terakhir, bisa dengan menambahkan bunga atau daun untuk memperoleh efek yang sempurna.













BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
<<














































3.2 Pembahasan
Pada percobaan kali ini yaitu merangkai bungga, merangkai bungga juga membutuhkan jiwa seni yang sehingga membuat hasil bungga yang dirangkai akan menjadi lebih indah dan memiliki nilai estetika yang tinggi.
Merangkai bunga ini juga mengunakan gabus yang khusus untuk dijadikan media bungga agar bungga tetap segar dan tidak layu, selain itu juga rangkaian bungga tersebut juga mengunakan wada yang dipakai sebagai wadah gabus yang dijadikan media tanaman bungga.
Rangkaian bungga ini banyak mengunakan jenis bungga yang berbeda dan tidak terfokus pada satu bungga sehinga rangkaian yang dihasilkan lebih memiliki keindahan yang tiggi dibandingkan apabila mengunakan jenis satu bungga atau atau warna bungga, akan tetapi apabila dalam merangkai bungga tidak memiliki jiwa seni maka bungga yang dihasilkan akan terlihat berantakan.







LAPORAN PRAKTIKUM HARA TANAMAN DAN PEMUPUKAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kedelai (Glycine max (L.) Merill) adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur seperti kecap, tahu, dan tempe. Berdasarkan peninggalan arkeologi, tanaman ini telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur. Kedelai putih diperkenalkan ke Nusantara oleh pendatang dari Cina sejak maraknya perdagangan dengan Tiongkok, sementara kedelai hitam sudah dikenal lama orang penduduk setempat. Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia. Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai praktis baru dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910.
Di Indonesia, kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun Indonesia harus mengimpor sebagian besar kebutuhan kedelai. Ini terjadi karena kebutuhan Indonesia yang tinggi akan kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih rendah daripada di Jepang dan Cina. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif kurang mendapat perhatian dalam pemuliaan meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi Indonesia.
Kedelai merupakan tumbuhan serbaguna. Karena akarnya memiliki bintil pengikat nitrogen bebas, kedelai merupakan tanaman dengan kadar protein tinggi sehingga tanamannya digunakan sebagai pupuk hijau dan pakan ternak.
Pemanfaatan utama kedelai adalah dari biji. Biji kedelai kaya protein dan lemak serta beberapa bahan gizi penting lain, misalnya vitamin (asam fitat) dan lesitin. Olahan biji dapat dibuat menjadi tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tepung kedelai, taosi, tauco, dan minyak kedelai.
Kebutuhan kedelai di Indonesia setiap tahun selalu meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan perbaikan pendapatan perkapita. Oleh karena itu, diperlukan suplai kedelai tambahan yang harus diimpor karena produksi dalam negeri belum dapat mencukupi kebutuhan tersebut. Lahan budidaya kedelai pun diperluas dan produktivitasnya ditingkatkan. Untuk pencapaian usaha tersebut, diperlukan pengenalan mengenai tanaman kedelai yang lebih mendalam.

1.2. Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merill) verietas Anjasmoro yang diberi perlakuan pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang, SP-36, dan KCl.
2. Membandingkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai yang diberi perlakuan pemupukan dengan yang tidak diberi pupuk (kontrol).
3. Memenuhi syarat 1 SKS praktikum mata kuliah Kesuburan Tanah dan Pemupukan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Asal Usul dan Taksonomi Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merill)
Kedelai merupakan tanaman asli Daratan Cina dan telah dibudidayakan oleh manusia sejak 2500 SM. Sejalan dengan makin berkembangnya perdagangan antarnegara yang terjadi pada awal abad ke-19, menyebabkan tanaman kedelai juga ikut tersebar ke berbagai negara tujuan perdagangan tersebut, yaitu Jepang, Korea, Indonesia, India, Australia, dan Amerika. Kedelai mulai dikenal di Indonesia sejak abad ke-16. Awal mula penyebaran dan pembudidayaan kedelai yaitu di Pulau Jawa, kemudian berkembang ke Bali, Nusa Tenggara, dan pulau- pulau lainnya. Pada awalnya, kedelai dikenal dengan beberapa nama botani, yaitu Glycine soja dan Soja max. Namun pada tahun 1948 telah disepakati bahwa nama botani yang dapat diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glycine max (L.) Merill. Klasifikasi tanaman kedelai adalah sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Familia : Papilionaceae
Genus : Glycine
Species : Glycine max (L.) Merill

2.2. Morfologi Tanaman Kedelai
Tanaman kedelai umumnya tumbuh tegak, berbentuk semak, dan merupakan tanaman semusim. Morfologi tanaman kedelai didukung oleh komponen utamanya, yaitu akar, batang, daun, bunga, polong, dan biji sehingga pertumbuhannya bisa optimal.
2.2.1. Akar
Akar kedelai mulai muncul dari belahan kulit biji yang muncul di sekitar mesofil. Calon akar tersebut kemudian tumbuh dengan cepat ke dalam tanah, sedangkan kotiledon yang terdiri dari dua keping akan terangkat ke permukaan tanah akibat pertumbuhan yang cepat dari hipokotil.
Sistem perakaran kedelai terdiri dari dua macam, yaitu akar tunggang dan akar sekunder (serabut) yang tumbuh dari akar tunggang. Selain itu kedelai juga seringkali membentuk akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah hipokotil. Pada umumnya, akar adventif terjadi karena cekaman tertentu, misalnya kadar air tanah yang terlalu tinggi.
Perkembangan akar kedelai sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan kimia tanah, jenis tanah, cara pengolahan lahan, kecukupan unsur hara, serta ketersediaan air di dalam tanah.
2.2.2. Batang dan Cabang
Hipokotil pada proses perkecambahan merupakan bagian batang, mulai dari pangkal akar sampai kotiledon. Hipokotil dan dua keping kotiledon yang masih melekat pada hipokotil akan menerobos ke permukaan tanah. Bagian batang kecambah yang berada diatas kotiledon tersebut dinamakan epikotil.
Pertumbuhan batang kedelai dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe determinate dan indeterminate. Perbedaan sistem pertumbuhan batang ini didasarkan atas keberadaan bunga pada pucuk batang. Pertumbuhan batang tipe determinate ditunjukkan dengan batang yang tidak tumbuh lagi pada saat tanaman mulai berbunga. Sementara pertumbuhan batang tipe indeterminate dicirikan bila pucuk batang tanaman masih bisa tumbuh daun, walaupun tanaman sudah mulai berbunga. Disamping itu, ada varietas hasil persilangan yang mempunyai tipe batang mirip keduanya sehingga dikategorikan sebagai semi-determinate atau semi- indeterminate.
Cabang akan muncul di batang tanaman. Jumlah cabang tergantung dari varietas dan kondisi tanah, tetapi ada juga varietas kedelai yang tidak bercabang.
2.2.3. Daun
Tanaman kedelai mempunyai dua bentuk daun yang dominan, yaitu stadia kotiledon yang tumbuh saat tanaman masih berbentuk kecambah dengan dua helai daun tunggal dan daun bertangkai tiga (trifoliate leaves) yang tumbuh selepas masa pertumbuhan.
Umumnya, bentuk daun kedelai ada dua, yaitu bulat (oval) dan lancip (lanceolate). Kedua bentuk daun tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik. Daun mempunyai stomata, berjumlah antara 190-320 buah/m2.
Umumnya, daun mempunyai bulu dengan warna cerah dan jumlahnya bervariasi. Panjang bulu bisa mencapai 1 mm dan lebar 0,0025 mm. Kepadatan bulu bervariasi, tergantung varietas, tetapi biasanya antara 3 - 20 buah/mm2. Jumlah bulu pada varietas berbulu lebat, dapat mencapai 3 - 4 kali lipat dari varietas yang berbulu normal. Contoh varietas yang berbulu lebat yaitu IAC100, sedangkan varietas yang berbulu jarang yaitu Wilis, Dieng, Anjasmoro, dan Mahameru.
Lebat-tipisnya bulu pada daun kedelai berkait dengan tingkat toleransi varietas kedelai terhadap serangan jenis hama tertentu. Hama penggerek polong ternyata sangat jarang menyerang varietas kedelai yang berbulu lebat.
2.2.4. Bunga
Tanaman kacang-kacangan, termasuk tanaman kedelai, mempunyai dua stadia tumbuh, yaitu stadia vegetatif dan stadia reproduktif. Stadia vegetatif mulai dari tanaman berkecambah sampai saat berbunga, sedangkan stadia reproduktif mulai dari pembentukan bunga sampai pemasakan biji. Tanaman kedelai di Indonesia sebagian besar mulai berbunga pada umur antara 5-7 minggu. Tanaman kedelai termasuk peka terhadap perbedaan panjang hari, khususnya saat pembentukan bunga. Bunga kedelai menyerupai kupu-kupu.
Tangkai bunga umumnya tumbuh dari ketiak tangkai daun yang diberi nama rasim. Jumlah bunga pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 2 - 25 bunga, tergantung kondisi lingkungan tumbuh dan varietas kedelai. Bunga pertama yang terbentuk umumnya pada buku kelima, keenam, atau pada buku yang lebih tinggi.
Pembentukan bunga juga dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban. Pada suhu tinggi dan kelembaban rendah, jumlah sinar matahari yang jatuh pada ketiak tangkai daun lebih banyak. Hal ini akan merangsang pembentukan bunga.
Setiap ketiak tangkai daun yang mempunyai kuncup bunga dan dapat berkembang menjadi polong disebut sebagai buku subur. Tidak setiap kuncup bunga dapat tumbuh menjadi polong, hanya berkisar 20-80%. Jumlah bunga yang rontok tidak dapat membentuk polong yang cukup besar. Rontoknya bunga ini dapat terjadi pada setiap posisi buku pada 1 - 10 hari setelah mulai terbentuk bunga.
Periode berbunga pada tanaman kedelai cukup lama yaitu 3-5 minggu untuk daerah subtropik dan 2-3 minggu di daerah tropik, seperti di Indonesia. Jumlah bunga pada tipe batang determinate umumnya lebih sedikit dibandingkan pada batang tipe indeterminate. Warna bunga yang umum pada berbagai varietas kedelai hanya dua, yaitu putih dan ungu.
2.2.5. Polong dan Biji
Polong kedelai pertama kali terbentuk sekitar 7-10 hari setelah munculnya bunga pertama. Panjang polong muda sekitar 1 cm. Jumlah polong yang terbentuk pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 1-10 buah dalam setiap kelompok. Pada setiap tanaman, jumlah polong dapat mencapai lebih dari 50, bahkan ratusan. Kecepatan pembentukan polong dan pembesaran biji akan semakin cepat setelah proses pembentukan bunga berhenti. Ukuran dan bentuk polong menjadi maksimal pada saat awal periode pemasakan biji. Hal ini kemudian diikuti oleh perubahan warna polong, dari hijau menjadi kuning kecoklatan pada saat masak.
Di dalam polong terdapat biji yang berjumlah 2-3 biji. Setiap biji kedelai mempunyai ukuran bervariasi, mulai dari kecil (sekitar 7-9 g/100 biji), sedang (10-13 g/100 biji), dan besar (>13 g/100 biji). Bentuk biji bervariasi, tergantung pada varietas tanaman, yaitu bulat, agak gepeng, dan bulat telur. Namun demikian, sebagian besar biji berbentuk bulat telur.
Biji kedelai terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu kulit biji dan janin (embrio). Pada kulit biji terdapat bagian yang disebut pusar (hilum) yang berwarna coklat, hitam, atau putih. Pada ujung hilum terdapat mikrofil, berupa lubang kecil yang terbentuk pada saat proses pembentukan biji. Warna kulit biji bervariasi, mulai dari kuning, hijau, coklat, hitam, atau kombinasi campuran dari warna-warna tersebut.
Biji kedelai tidak mengalami masa dormansi sehingga setelah proses pembijian selesai, biji kedelai dapat langsung ditanam. Namun demikian, biji tersebut harus mempunyai kadar air berkisar 12-13%.
2.2.6. Bintil Akar dan Fiksasi Nitrogen
Tanaman kedelai dapat mengikat nitrogen (N2) di atmosfer melalui aktivitas bekteri pengikat nitrogen, yaitu Rhizobium japonicum. Bakteri ini terbentuk di dalam akar tanaman yang diberi nama nodul atau bintil akar. Keberadaan Rhizobium japonicum di dalam tanah memang sudah ada karena tanah tersebut ditanami kedelai atau memang sengaja ditambahkan ke dalam tanah. Nodul atau bintil akar tanaman kedelai umumnya dapat mengikat nitrogen dari udara pada umur 10 – 12 hari setelah tanam, tergantung kondisi lingkungan tanah dan suhu. Kelembaban tanah yang cukup dan suhu tanah sekitar 25°C sangat mendukung pertumbuhan bintil akar tersebut. Perbedaan warna hijau daun pada awal pertumbuhan (10 – 15 hst) merupakan indikasi efektivitas Rhizobium japonicum. Namun demikian, proses pembentukan bintil akar sebenarnya sudah terjadi mulai umur 4 – 5 hst, yaitu sejak terbentuknya akar tanaman.
Kemampuan memfikasi N2 ini akan bertambah seiring dengan bertambahnya umur tanaman, tetapi maksimal hanya sampai akhir masa berbunga atau mulai pembentukan biji. Setelah masa pembentukan biji, kemampuan bintil akar memfikasi N2 akan menurun bersamaan dengan semakin banyaknya bintil akar yang tua dan luruh. Di samping itu, juga diduga karena kompetisi fotosintesis antara proses pembentukan biji dengan aktivitas bintil akar.

2.3. Stadia Pertumbuhan Kedelai
2.3.1.1. Stadia Pertumbuhan Vegetatif
Stadia pertumbuhan vegetatif dihitung sejak tanaman mulai muncul ke permukaan tanah sampai saat mulai berbunga. Stadia perkecambahan dicirikan dengan adanya kotiledon, sedangkan penandaan stadia pertumbuhan vegetatif dihitung dari jumlah buku yang terbentuk pada batang utama. Stadia vegetatif umumnya dimulai pada buku ketiga.
2.3.2.1. Stadia Pertumbuhan Reproduktif
Stadia pertumbuhan reproduktif (generatif) dihitung sejak tanaman kedelai mulai berbunga sampai pembentukan polong, perkembangan biji, dan pemasakan biji.


2.4. Lingkungan Tumbuh Tanaman Kedelai
Untuk mencapai pertumbuhan tanaman yang optimal, tanaman kedelai memerlukan kondisi lingkungan tumbuh yang optimal pula. Tanaman kedelai sangat peka terhadap perubahan faktor lingkungan tumbuh, khususnya tanah dan iklim. Kebutuhan air sangat tergantung pada pola curah hujan yang turun selama pertumbuhan, pengelolaan tanaman, serta umur varietas yang ditanam.
Tanah dan iklim merupakan dua komponen lingkungan tumbuh yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman kedelai. Pertumbuhan kedelai tidak bisa optimal bila tumbuh pada lingkungan dengan salah satu komponen lingkungan tumbuh optimal. Hal ini dikarenakan kedua komponen ini harus saling mendukung satu sama lain sehingga pertumbuhan kedelai bisa optimal.
2.4.1.1. Tanah
Tanaman kedelai sebenarnya dapat tumbuh di semua jenis tanah, namun demikian, untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan produktivitas yang optimal, kedelai harus ditanam pada jenis tanah berstruktur lempung berpasir atau liat berpasir. Hal ini tidak hanya terkait dengan ketersediaan air untuk mendukung pertumbuhan, tetapi juga terkait dengan faktor lingkungan tumbuh yang lain.
Faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan pertanaman kedelai yaitu kedalaman olah tanah yang merupakan media pendukung pertumbuhan akar. Artinya, semakin dalam olah tanahnya maka akan tersedia ruang untuk pertumbuhan akar yang lebih bebas sehingga akar tunggang yang terbentuk semakin kokoh dan dalam. Pada jenis tanah yang bertekstur remah dengan kedalaman olah lebih dari 50 cm, akar tanaman kedelai dapat tumbuh mencapai kedalaman 5 m. Sementara pada jenis tanah dengan kadar liat yang tinggi, pertumbuhan akar hanya mencapai kedalaman sekitar 3 m.
2.4.2.1. Iklim
a. Suhu
Tanaman kedelai dapat tumbuh pada kondisi suhu yang beragam. Suhu tanah yang optimal dalam proses perkecambahan yaitu 30°C. Bila tumbuh pada suhu tanah yang rendah (<15°C), proses perkecambahan menjadi sangat lambat, bisa mencapai 2 minggu. Hal ini dikarenakan perkecambahan biji tertekan pada kondisi kelembaban tanah tinggi. Sementara pada suhu tinggi (>30°C), banyak biji yang mati akibat respirasi air dari dalam biji yang terlalu cepat.
Disamping suhu tanah, suhu lingkungan juga berpengaruh terhadap perkembangan tanaman kedelai. Bila suhu lingkungan sekitar 40°C pada masa tanaman berbunga, bunga tersebut akan rontok sehingga jumlah polong dan biji kedelai yang terbentuk juga menjadi berkurang. Suhu yang terlalu rendah (10°C), seperti pada daerah subtropik, dapat menghambat proses pembungaan dan pembentukan polong kedelai. Suhu lingkungan optimal untuk pembungaan bunga yaitu 24 -25°C.
b. Panjang hari (photoperiode)
Tanaman kedelai sangat peka terhadap perubahan panjang hari atau lama penyinaran sinar matahari karena kedelai termasuk tanaman “hari pendek”. Artinya, tanaman kedelai tidak akan berbunga bila panjang hari melebihi batas kritis, yaitu 15 jam perhari. Oleh karena itu, bila varietas yang berproduksi tinggi dari daerah subtropik dengan panjang hari 14 – 16 jam ditanam di daerah tropik dengan rata-rata panjang hari 12 jam maka varietas tersebut akan mengalami penurunan produksi karena masa bunganya menjadi pendek, yaitu dari umur 50 – 60 hari menjadi 35 – 40 hari setelah tanam. Selain itu, batang tanaman pun menjadi lebih pendek dengan ukuran buku subur juga lebih pendek.
c. Distribusi curah hujan
Hal yang terpenting pada aspek distribusi curah hujan yaitu jumlahnya merata sehingga kebutuhan air pada tanaman kedelai dapat terpenuhi. Jumlah air yang digunakan oleh tanaman kedelai tergantung pada kondisi iklim, sistem pengelolaan tanaman, dan lama periode tumbuh. Namun demikian, pada umumnya kebutuhan air pada tanaman kedelai berkisar 350 – 450 mm selama masa pertumbuhan kedelai. Pada saat perkecambahan, faktor air menjadi sangat penting karena akan berpengaruh pada proses pertumbuhan. Kebutuhan air semakin bertambah seiring dengan bertambahnya umur tanaman. Kebutuhan air paling tinggi terjadi pada saat masa berbunga dan pengisian polong. Kondisi kekeringan menjadi sangat kritis pada saat tanaman kedelai berada pada stadia perkecambahan dan pembentukan polong. Untuk mencegah terjadinya kekeringan pada tanaman kedelai, khususnya pada stadia berbunga dan pembentukan polong, dilakukan dengan waktu tanam yang tepat, yaitu saat kelembaban tanah sudah memadai untuk perkecambahan. Selain itu, juga harus didasarkan pada pola distribusi curah hujan yang terjadi di daerah tersebut. Tanaman kedelai sebenarnya cukup toleran terhadap cekaman kekeringan karena dapat bertahan dan berproduksi bila kondisi cekaman kekeringan maksimal 50% dari kapasitas lapang atau kondisi tanah yang optimal.
Selama masa stadia pemasakan biji, tanaman kedelai memerlukan kondisi lingkungan yang kering agar diperoleh kualitas biji yang baik. Kondisi lingkungan yang kering akan mendorong proses pemasakan biji lebih cepat dan bentuk biji yang seragam.

2.5. Hama dan Penyakit pada Tanaman Kedelai
Hama-hama yang biasa menyerang tanaman kedelai di lahan antara lain adalah : Aphis spp. (Aphis glycine), Melano Agromyza phaseoli, kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa), cantalan (Epilachana soyae), ulat polong (Etiela zinchenella), kepala polong (Riptortus linearis), lalat kacang (Ophiomyia phaseoli), kepik hijau (Nezara viridula), dan ulat grayak (Prodenia litura).
Beberapa penyakit yang biasa menyerang tanaman kedelai di lahan antara lain adalah : penyakit layu bakteri (Pseudomonas solanacearum), penyakit layu (jamur tanah : Sclerotium rolfsii), penyakit lapu (Witches Broom : virus), penyakit anthracnose (cendawan Colletotrichum glicyne Mori), penyakit karat (cendawan Pachyrizi phakospora), penyakit bercak daun bakteri (Xanthomonas phaseoli), penyakit busuk batang (cendawan Phytium sp.), virus mosaik (virus), dan penyakit Fusarium root Rot.

2.6. Pupuk
Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen.
Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Pupuk juga biasa diartikan sebagai suatu bahan yang digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah (Sarwono, 2007).
2.6.1. Macam-Macam Pupuk
Dalam praktek sehari-hari, pupuk biasa dikelompok-kelompokkan untuk kemudahan pembahasan. Pembagian itu berdasarkan sumber bahan pembuatannya, bentuk fisiknya, atau berdasarkan kandungannya.
1. Pupuk berdasarkan sumber bahan
Dilihat dari sumber pembuatannya, terdapat dua kelompok besar pupuk: (1) pupuk organik atau pupuk alami (bahasa Inggris: manure) dan (2) pupuk kimia atau pupuk buatan (Ing. fertilizer). Pupuk organik mencakup semua pupuk yang dibuat dari sisa-sisa metabolisme atau organ hewan dan tumbuhan, sedangkan pupuk kimia dibuat melalui proses pengolahan oleh manusia dari bahan-bahan mineral. Pupuk kimia biasanya lebih "murni" daripada pupuk organik, dengan kandungan bahan yang dapat dikalkulasi. Pupuk organik sukar ditentukan isinya, tergantung dari sumbernya; keunggulannya adalah ia dapat memperbaiki kondisi fisik tanah karena membantu pengikatan air secara efektif.
2. Pupuk berdasarkan bentuk fisik
Berdasarkan bentuk fisiknya, pupuk dibedakan menjadi pupuk padat dan pupuk cair. Pupuk padat diperdagangkan dalam bentuk onggokan, remahan, butiran, atau kristal. Pupuk cair diperdagangkan dalam bentuk konsentrat atau cairan. Pupuk padatan biasanya diaplikan ke tanah/media tanam, sementara pupuk cair diberikan secara disemprot ke tubuh tanaman.
3. Pupuk berdasarkan kandungannya
Terdapat dua kelompok pupuk berdasarkan kandungan: pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal mengandung hanya satu unsur, sedangkan pupuk majemuk paling tidak mengandung dua unsur yang diperlukan. Terdapat pula pengelompokan yang disebut pupuk mikro, karena mengandung hara mikro (micronutrients). Beberapa merk pupuk majemuk modern sekarang juga diberi campuran zat pengatur tumbuh atau zat lainnya untuk meningkatkan efektivitas penyerapan hara yang diberikan.
Pupuk Tunggal
1. Pupuk N
Pupuk N adalah pupuk yang mengandung unsur hara nitrogen (N). Pupuk buatan yang mengandung N ini antara lain adalah pupuk ZA (amonium sulfat), urea, dan ASN (amonium sulfat nitrat). Manfaat dari pupuk N ini adalah sebagai berikut :
a. Memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman.
b. Sebagai penyusun zat hijau daun (klorofil).
c. Meningkatkan kadar protein hasil panen.
2. Pupuk P
Pupuk P adalah pupuk yang mengandung unsur hara fosfor (P). Pupuk buatan yang mengandung unsur P ini antara lain adalah DSP (double superphosphate), SP-36 (triple superphosphate), SP-36, FMP (fused magnesium phosphate), agrophos, dan lain-lain. Manfaat dari pupuk P ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk pembelahan sel dan pembentukan albumin.
b. Pembentukan bunga, buah, dan biji.
c. Mempercepat pematangan.
d. Memperkuat batang agar tidak mudah roboh dan perkembangan akar.
e. Memeperbaiki kualitas tanaman terutama sayur-mayur dan makanan ternak.
3. Pupuk K
Pupuk K adalah pupuk yang mengandung unsur hara kalium (K). Pupuk buatan yang mengandung unsur K ini antara lain adalah ZK (kalium sulfat), KCl (kalium chlorida), dan kalium magnesium sulfat. Manfaat dari pupuk K ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk pembentukan pati.
b. Mengaktifkan enzim.
c. Pembukaan stomata (mengatur pernafasan dan penguapan).
d. Mengatur proses fisiologis dan metabolik dalam sel tanaman.
e. Mempengaruhi penyerapan unsur-unsur lain.
f. Perkembangan akar.
g. Mempertinggi daya tahan terhadap kekeringan dn penyakit.

Pupuk Kandang
Pupuk kandang adalah zat organik yang digunakan sebagai pupuk organik dalam pertanian. Pupuk kandang berperan dalam kesuburan tanah dengan menambahkan zat dan nutrien, seperti nitrogen yang ditangkap bakteri dalam tanah. Organisme yang lebih tinggi kemudian hidup dari jamur dan bakteri dalam rantai kehidupan yang membantu jaring makanan tanah.
Dalam pengelolaan tanah, pupuk kandang dapat dikelompokkan menjadi 3 macam, yakni pupuk hewan, kompos, dan pupuk hijau.
Secara umum dapat disebutkan bahwa setiap ton pupk kandang mengandung 5 kg N, 3 kg P2O5, dan 5 kg K¬2O serta usur-unsur hara esensial lain dalam jumlah yang relatif kecil (Knuti, Korpi dan Hide, 1970).
Sifat-sifat pupuk kandang tiap jenis hewan yang dipelihara menghasilkan pupuk kandang dengan sifat yang berbeda-beda :
  Kotoran ayam mengandung N tiga kali lebih besar daripada pupuk kandang yang lain.
  Kotoran kambing mengandung N dan K masing-masing dua kali lebih besar daripada kotoran sapi.
  Kotoran babi mengandung P dua kali lebih banyak daripada kotoran sapi.
  Pupuk kandang dari kuda atau kambing mengalami fermentasi dan menjadi panas lebih cepat daripada pupuk kandang sapi dan babi. Karena itu petani biasanya menyebut pupuk kandang sapi dan babi sebagai pupuk dingin (cold manures).
  Dalam semua pupuk kandang P selalu terdapat dalam kotoran padat, sedang sebagian besar K dan N terdapat dalam kotoran cair (urine).
  Kandungan K dalam urine adalah lima kali lebih banyak daripada dalam kotoran padat, sedang kandungan N adalah dua sampai tiga kali lebih banyak .
  Kandungan unsur hara dalam kotoran ayam adalah yang paling tinggi, karena bagian cair (urine) tercampur dengan bagian padat.
  Kandungan unsur hara dalam pupuk kandang ditentukan pula oleh jenis makanan yang diberikan.

Dalam melakukan pemupukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
1. Tanaman-tanaman yang akan dipupuk.
2. Jenis tanah yang akan dipupuk.
3. Jenis pupuk yang digunakan.
4. Dosis (jumlah) pupuk yang digunakan.
5. Waktu pemupukan.
6. Cara pemupukan.

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan selama 13 minggu di mulai dari tanggal 6 Maret 2010 sampai dengan 7 Juni 2010. Dan praktikum ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Jambi, Mendalo.

3.2. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan praktikum ini yaitu : cangkul, parang, patokan (ajir), bambu, kayu, gunting, tali plastik, meteran, ember, gembor, mistar, kantong plastik, timbangan analitik, dan alat tulis.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu : benih (biji) kedelai, pupuk kandang, pupuk SP-36, pupuk KCl, dan air untuk menyiram.

3.3. Prosedur Pelaksanaan Praktikum
Prosedur pelaksanaan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Mempersiapkan lahan
Dalam mempersiapkan lahan untuk menanam kedelai yang dilakukan adalah membersihkan areal lahan dan membuat petakan tanam yang berukuran 2 m × 3 m, lalu pada petakan tersebut ditaburkan pupuk kandang sebagai pupuk dasarnya. Persiapan lahan ini dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2010.
2. Penanaman benih kedelai
Benih kedelai yang ditanam adalah benih kedelai varietas Anjasmoro dengan populasi tiga (setiap lubang tanam diberikan tiga benih). Namun setelah benih tumbuh menjadi tanaman, satu tanaman dipotong sehingga populasinya menjadi satu tanaman setiap lubang. Benih ditanam dengan jarak 20 cm × 40 cm. Penanaman benih ini dilaksanakan pada tanggal 9 Maret 2010.
3. Pemberian pupuk (pemupukan)
Pemberian pupuk dilakukan dalam dua tahap yaitu pada tahap pertama pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang pada saat pembukaan lahan dengan dosis 5 ton/Ha (3 kg/petak), dan pada tahap kedua pupuk yang diberikan adalah pupuk SP-36 dan KCl. Pupuk SP-36 dan KCl diberikan pada saat tanaman kedelai berumur 1 minggu yaitu pada tanggal 15 Maret 2010. Dosis pupuk SP-36 yang diberikan adalah 75 kg/Ha (45 gr/petakan) dan dosis pupuk KCl yang diberikan adalah 50 kg/Ha (30 gr/petakan).
4. Perawatan dan pengamatan pertumbuhan tanaman kedelai
Perawatan tanaman kedelai dilakukan selama praktikum mulai dari penanaman benih sampai sebelum panen. Perawatan yang dilakukan adalah penyiraman tanaman, pemupukan, dan penyiangan gulma. Sedangkan pengamatan pertumbuhan tanaman kedelai dilakukan satu minggu sekali setiap hari Senin dimulai sejak tanaman kedelai berumur 2 minggu sampai tanaman berumur 10 minggu. Parameter yang diamati dalam praktikum ini adalah tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah polong, dan berat kering polong yang dihasilkan. Pengamatan dilakukan pada 10 sampel tanaman yang telah dipilih secara acak.
5. Pemanenan
Pemanenan dilakukan pada saat tanaman kedelai berumur 13 minggu yaitu pada tanggal 7 Juni 2010. Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut tanaman lalu dipangkas daunnya dan diambil polongnya. Lalu polong pada tanaman sampel hasil panen ditimbang berat keringnya. Penimbangan berat kering polong dilakukan dilaboratorium menggunakan timbangan analitik.

3.4. Parameter yang Diamati
Dalam pelaksanaan praktikum ini, ada beberapa parameter yang diamati yaitu :
1. Tinggi Tanaman
Pengamatan tinggi tanaman kedelai dilakukan satu kali dalam seminggu yaitu setiap hari Senin dimulai dari minggu kedua setelah penanaman sampai tanaman berumur 7 minggu.



2. Jumlah Daun
Pengamatan jumlah daun dilakukan satu kali dalam seminggu yaitu setiap hari Senin dimulai dari minggu kedua setelah penanaman sampai tanaman berumur 7 minggu.
3. Jumlah Polong
Pengamatan jumlah polong dilakukan satu kali dalam seminggu yaitu setiap hari Senin dimulai setelah tanaman berumur 7 minggu sampai dengan tanaman berumur 10 minggu.
4. Berat Kering Polong
Berat polong diamati setelah tanaman kedelai dipanen yaitu setelah tanaman berumur 13 minggu. Yang diamati adalah berat kering polong kedelai.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan
Dari pengamatan yang dilakukan setiap minggunya pada praktikum ini didapatkan data pengamatan sebagai berikut :
4.1.1. Pengamatan Minggu I
Pada minggu I, yaitu pada hari Senin. 15 maret 2010, dilakukan pengamatan pada petakan kelompok 6 dan petakan kontrol. Tanaman yang tumbuh pada petakan kelompok 6 ada 69 lubang dari 75 lubang tanam. Sehingga persentase pertumbuhan tanaman kedelai pada petakan kelompok 6 adalah   × 100 % = 92 %. Sedangkan pengamatan pada petakan kontrol adalah terdapat 59 lubang tanaman yang tumbuh dari 60 lubang tanam. Sehingga persentase pertumbuhannya adalah   × 100 % = 98.33 %.
4.1.2. Tabel Pengamatan Tinggi (cm) Tanaman Kedelai
Sampel Minggu Ke-
2 3 4 5 6 7
1 14 21.3 28.5 40 53.5 65
2 17 25 26 30.5 43.5 52
3 16 23 32 41.5 55.8 67
4 14 21.3 27.5 34 44.3 52
5 18 27 34 49 64.5 78
6 15 24.5 38 49 66 79
7 12 18 22.5 34 44 54
8 17 24.5 32 42.5 54.5 66
9 15 26 40 51 66.7 77
10 15 21 28.5 40.5 53 63



4.1.3. Tabel Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Kedelai
Sampel Minggu Ke-
2 3 4 5 6 7
1 5 11 14 23 41 53
2 5 11 11 29 32 38
3 5 11 13 22 46 69
4 5 8 11 17 23 50
5 5 11 15 21 62 76
6 5 14 17 28 60 81
7 5 8 11 20 37 47
8 5 11 14 23 35 49
9 5 11 18 30 73 97
10 5 8 14 20 45 47

4.1.4. Tabel Pengamatan Jumlah Polong Tanaman Kedelai
Sampel Minggu Ke-
7 8 9 10
1 5 45 54 60
2 3 23 31 43
3 21 47 48 52
4 6 21 26 30
5 5 65 77 84
6 28 76 86 93
7 7 29 38 53
8 6 56 81 109
9 32 91 101 128
10 6 44 60 88





4.1.5. Tabel Pengamatan Berat Kering Polong Kedelai
Sampel Berat Kering (gr)
1 29.3
2 20.5
3 30.6
4 29.2
5 43.3
6 45.9
7 16.3
8 25.3
9 50.8
10 32.2
Total (Σ) 323.4

4.1.6. Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman Kedelai (Kontrol)
Sampel Minggu Ke-
2 3 4 5 6 7
1 15 19 19 24 26 27
2 14 19 19 19 19 19
3 15.5 20 20 21 24 24
4 12.5 19 18.5 21 21 22
5 13 13 21 23 24.4 26
6 16 20 18 19 20.9 26
7 13 17 19 24.5 30 32
8 14 21 21 23.5 26 32
9 17 21 23 23 23.3 27
10 14.2 18 21.5 26 29.7 32





4.1.7. Tabel Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Kedelai (Kontrol)
Sampel Minggu Ke-
2 3 4 5 6 7
1 6 9 9 11 9 12
2 5 8 9 8 11 9
3 5 6 6 9 9 10
4 5 8 10 9 12 12
5 5 7 8 11 14 15
6 5 8 8 11 14 17
7 5 7 10 13 16 12
8 8 8 8 11 13 21
9 6 6 8 9 9 15
10 5 6 7 12 15 18

4.1.8. Tabel Pengamatan Jumlah Polong Tanaman Kedelai (Kontrol)
Sampel Minggu Ke-
8 9 10
1 1 1 1
2 - - -
3 1 1 1
4 2 2 2
5 1 1 1
6 1 1 1
7 4 4 4
8 3 3 3
9 - - -
10 3 3 3





4.1.9. Tabel Pengamatan Berat Kering Polong Kedelai
Sampel Berat Kering (gr)
1 0.48
2 0
3 0.52
4 1.28
5 0.45
6 0.58
7 2.64
8 1.89
9 0
10 2.14
Total (Σ) 9.98

4.1.10. Kurva Pertumbuhan Tanaman
 




4.2. Pembahasan
4.2.1. Luas Petakan dan Jarak Tanam
Petakan tanam yang dibuat dalam praktikum ini berukuran 2 m × 3 m. Jadi luas petakan tanamnya adalah 6 m2. Dalam penanaman, jarak tanam yang digunakan adalah 20 cm × 40 cm dan populasi tanaman setiap lubang tanam adalah satu populasi sehingga dalam satu petakan tedapat 75 tanaman kedelai.











Keterangan :
× = tanaman kedelai
a = 20 cm
b = 40 cm

4.2.2. Penggunaan Pupuk
Dalam praktikum ini pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang, pupuk SP-36, dan pupuk KCl. Dosis yang digunakan untuk masing-masing pupuk tesebut adalah sebagai berikut :
1. Pupuk kandang
Pupuk kandang diberikan satu minggu sebelum menanam benih kedelai, yaitu setelah pembukaan lahan pada tanggal 7 Maret 2010. Dosis pupuk kandang yang digunakan dalam praktikum ini adalah 5 ton/Ha. Jadi pupuk kandang yang digunakan dalam satu petakan adalah sebagai berikut :
Pupuk kandang yang digunakan =   = 3 kg/petakan
2. Pupuk SP-36
Pupuk SP-36 diberikan pada saat tanaman kedelai berumur 1 minggu, yaitu pada tanggal 15 Maret 2010. Dosis pupuk SP-36 yang digunakan dalam praktikum ini adalah 75 Kg/Ha.
Jadi pupuk SP-36 yang digunakan dalam satu petakan adalah sebagai berikut:
SP-36 yang digunakan =   = 45 gr/petakan
         =   = 0,6 gr/tanaman
3. Pupuk KCl
Pupuk KCl diberikan bersamaan dengan pupuk SP-36 pada saat tanaman kedelai berumur 1 minggu, yaitu pada tanggal 15 Maret 2010. Dosis pupuk KCl yang digunakan dalam praktikum ini adalah 50 Kg/Ha. Jadi pupuk KCl yang digunakan dalam satu petakan adalah sebagai berikut:
KCl yang digunakan =   = 30 gr/petakan
         =   = 0,4 gr/tanaman
Pemberian pupuk bagi tanaman diberikan dengan cara disebar dan dicampur merata dengan tanah untuk pupuk kandang yang diberikan lebih awal daripada pupuk yang lain. Sedangkan untuk pupuk SP-36 dan KCl diberikan secara larikan berjalur sesuai dengan dosis yang ditentukan.

4.2.3. Pengamatan Tanaman Kedelai per Minggu
Pengamatan dimulai pada minggu I setelah tanam. Pada pengamatan pertama, tanaman kedelai sudah mulai tumbuh dan bermunculan di atas permukaan tanah. Tetapi tidak semua benih yang ditanam tumbuh dengan baik. Pada petakan kami, benih yang tumbuh hanya 69 lubang tanam dari 75 lubang tanam yang dipersiapkan atau hanya 92 % yang tumbuh dengan baik. Sedangkan pada petaka kontrol, benih yang tumbuh ada 59 lubang tanam dari 60 lubang tanam yang dipersiapkan atau sekitar 98.33 % benih yang tumbuh dengan baik.
Pengukuran tinggi tanaman dan menghitung jumlah daun dilakukan setelah tanaman kedelai berumur 2 minggu sampai tanaman berumur 7 minggu yang dilakukan pada hari Senin setiap minggunya, yaitu mulai tanggal 22 Maret 2010 sampai tanggal 26 April 2010. Pada stadia ini tanaman kedelai berada pada stadia pertumbuhan vegetatif dimana tanaman masih membentuk organ-organ vegetatifnya seperti akar, batang, dan daun untuk menunjang kelangsungan hidup tanaman tersebut. Dan pada minggu keenam tanaman kedelai mulai memasuki stadia pertumbuhan generatif karena sebagian besar tanaman sudah bermunculan bunga. Pada minggu ketujuh, polong sudah mulai terbentuk sehingga pengukuran tinggi tanaman dan penghitungan jumlah daun dihentikan karena pertumbuhan organ-organ vegetatif dianggap sudah tidak terjadi lagi (derteminate).
Setelah pengukuran tinggi tanaman dan penghitungan jumlah daun dihentikan, pengamatan yang dilakukan hanyalah menghitung jumlah polong yang terbentuk pada setiap tanaman sampel yang dilakukan mulai minggu ketujuh sampai pada minggu kesepuluh pada tanggal 17 Mei 2010. Dan setelah minggu kesepuluh tidak dilakukan pengamatan lagi karena hanya tinggal menunggu polong kedelai tua dan siap untuk dipanen.

4.2.4. Hasil Panen Tanaman Kedelai
Pemanenan tanaman kedelai dilakukan pada saat tanaman kedelai berumur 13 minggu, yaitu pada tanggal 7 Juni 2010. Dari hasil panen tersebut yang diukur adalah berat kering polong kedelai yang dihasilkan. Dan berat kering polong hasil panen tersebut berbeda antara tanaman sampel yang satu dengan tanaman sampel yang lainnya. Hasil panen pada petakan kami yang diberi perlakuan pemupukan jauh lebih banyak daripada hasil pada petakan kontrol. Hal ini juga menunjukkan bahwa pemupukan memberikan pengaruh yang nyata (significant) terhadap hasil panen tanaman kedelai.
Dari tabel berat kering polong di atas, dapat dicari rata-rata berat kering ( ) polong kedelai yang dihasilkan, baik pada petakan kami maupun pada petakan kontrol. Hasil perhitungan rata-rata berat kering ( ) polong kedelai adalah sebagai berikut :
1. Petakan Kelompok 6
Rata-rata berat kering ( ) per tanaman =  
   =
   = 32.34 gr/tanaman
2. Petakan Kontrol
Rata-rata berat kering ( ) per tanaman =  
   =
   = 0.998 gr/tanaman
Hasil panen polong kedelai pada petakan kami yang diberi perlakuan pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang 5 ton/Ha, SP-36 75 kg/Ha, dan KCl 50 kg/Ha dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
 

 
 

 

 

4.2.5. Perbandingan Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai yang Diberi Perlakuan dengan Kontrol
Dari data hasil dan pembahasan di atas terlihat bahwa pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai yang diberi perlakuan pemupukan dengan yang tidak diberi perlakuan (kontrol) sangat jauh berbeda. Seperti yang diperlihatkan pada kurva pertumbuhan di atas, pertumbuhan tanaman kedelai yang diberikan perlakuan pemupukan tumbuh lebih baik dan memberikan hasil panen yang lebih banyak pula dibandingkan dengan kontrol. Pada tanaman yang diberi pupuk, hasil rata-rata berat kering polongnya adalah 32,34 gr/tanaman, sedangkan pada tanaman kontrol hanya menghasilkan rata-rata berat kering polong seberat 0,998 gr/tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa pemupukan dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman karena pupuk merupakan tambahan sumber hara bagi tanaman.

4.3. Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan praktikum di atas, maka dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa :
1. Pemupukan berpengaruh nyata (significant) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai.
2. Perlakuan pemupukan dapat meningkatkan hasil produksi tanaman kedelai.
3. Perlakuan pemupukan dapat meningkatkan kesuburan tanah.
4. Pupuk merupakan suatu zat yang berperan sebagai tambahan sumber hara penting bagi tanaman.


DAFTAR PUSTAKA

Ali, Kemas. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Anonimous. 2002. Pupuk Urea. http://www.petrokimia-gresik.com/urea.asp.
_________. 2009. Budidaya Tanaman Kedelai. http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/03/budidaya_tanaman_kedelai.pdf.
_________. 2009. Kedelai. http://id.wikipedia.org/wiki/Kedelai.
_________. 2009. Pupuk. http://id.wikipedia.org/wiki/Pupuk.
_________. 2009. Urea. http://www.pupukkaltim.com/ina/produk/index.php? act=urea.
Ashari, S. 1995. HORTIKULTURA Aspek Budidaya. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.
Hardjowigeno, S. 2007. ILMU TANAH. Jakarta : Penerbit Akademika Pressindo.
Samsuddin. 1997. Dasar-dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian. PT. Bina Cipta Bandung.
Zuchri dan Mutiara. R. 1998. Program Penyuluhan Pertanian. Ektensia Volume 6 Tahun. V. Jakarta

Sterilisasi Alat Dan Bahan




LAPORAN PRAKTIKUM MINGGUAN
TEKNIK KULTUR JARINGAN
“ Sterilisasi Alat Praktikum”







Oleh :
Fatkhonudin



FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2012







1. Judul
Sterilisasi Alat – Alat Percobaan

2. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk meningkatkan ketrampilan dan kemampuan mahasiswa/i dalam melakukan sterilisasi peralatan dengan menggunakan autoklaf.

3. Alat dan bahan
Bahan dan peralatan yang digunakan pada percobaan kali ini antara lain :
Autoklaf,
Air bersih
Botol (sebagai media)
Sunligh
Sikat Pembersih
Ember

4. Prinsip teori
Sebagai syarat mutlak suksesnya kultur jaringan tanaman, biasanya sterilisasi dilakukan dengan menggunakan autoklaf. Bahkan autoklaf juga dapat digunakan untuk sterilisasi media tumbuh kultur jaringan. Tipe autoklaf yang dapat digunakan untuk sterilisasi sangatlah beragam macamnya, mulai dari yang sederhana sampai digital (terprogram).
Autoklaf yang sederhana menggunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf. Pemanasan air dapat menggunakan kompor atau api Bunsen. Dengan autoklaf sederhana ini, tekanan dan temperatur diatur dengan jumlah panas dari api. Kelemahan dari autoklaf ini adalah bahwa perlu adanya penjagaan dan pengaturan panas secara manual dan terkontrol, selama masa sterilisasi dilakukan. Tetapi autoklaf ini mempunyai keuntungan, yaitu: lebih sederhana sederhana, harga relatif murah, tidak tergantung dari aliran listrik yang sering merupakan problema untuk negara-negara yang sedang berkembang, serta lebih cepat dari autoklaf listrik yang seukuran dan setaraf.
Autoklaf yang lebih komplit menggunakan sumber energi dari listrik. Alatnya dilengkapi dengan timer dan thermostat. Bila pengatur automatis ini berjalan dengan baik. Maka autoklaf dapat dijalankan sambil mengerjakan pekerjaan lain. Kelemahannya adalah bila salah satu pengatur tidak bekerja, maka pekerjaan persiapan media menjadi sia-sia dan kemungkinan menyebabkan kerusakkan total pada autoklaf. Sebagai sumber uap, juga berasal dari air yang ditambahkan ke dalam autoklaf dan didihkan.
Biasanya untuk laboratorium komersial, menurut Gunawan (1988), diperlukan autoklaf dengan kapasitas besar dan sumber uap biasanya dari boiler yang terpisah. Autoklaf ini sangat cepat dan dapat diprogam waktu sterilisasi serta waktu pendinginan. Setelah sterilisasi bahan atau alat selesai, temperatur dan tekanan autoklaf diturunkan secara perlahan-lahan dalam waktu 15-30 menit. Pada autoklaf yang programmable (memiliki program yang dapat diatur), panas ini diatur secara atomatis. Tetapi pada autoklaf yang sederhana hal ini harus diatur secara manual.

5. Cara kerja
a. Menyiapkan media (botol) yang akan disterilkan.
b. Kemudian botol dicuci dengan air bersih dengan mengunakan sunligh dan disikat hinga bersih.
c. Setelah itu botol tersebut ditata dalam wadah yang kemudian akan dimasukan kedalam autoklaf.
d. Tambahkan air secukupnya dalam autoklaf.
e. Kemudian masukan botol yang sudah ditata kedalam autoklaf dan tutup.
f. Setelah itu hidupkan autoklaf hinga mencapai suhu 1200 pada tekanan 15-17,5 psi. selama 30 menit.
g. Autoklaf dapat dibuka setelah suhu mencapai 30 - 400 dan peralatan yang telah disterilisasi diambil.
h. Kemudian peralatan disimpan di tempat yang bersi

6. Hasil dan Pembahasan
a. Hasil
Alat yang disterilisasi yaitu botol kultur jaringan (media/botol selai)

b. Pembahasan
Alat-alat yang digunakan harus dalam keadaan steril. Karena kondisi yang seteril akan menentukan berhasil tidaknya suatu kegiatan kultur jaringan. Karena jika kondisinya tidak steril, maka akan mudah terkena kontaminasi sehingga kemampuan tipotensi sel akan terhambat. Alat-alat logam dan gelas yang digunakan pada saat penanaman dapat disterilkan dalam autoklaf. Alat tanam seperti: pinset dan gunting dapat juga disterilkan dengan pembakaran atau dengan pemanasan dalam bacticinerator ataupun pembakar bunsen.
Pada prinsipnya, sterilisasi autoclave menggunakan panas dan tekanan dari uap air.
Temperature sterilasi biasanya 1200 C, tekanan yang biasa digunakan antara 15-17,5 psi (pound per square inci) atau 1 atm. Lamanya sterilisasi tergantung dari volume dan jenis. Alat-alat dan air disterilkan selama 1 jam, tetapi media antara 30-40 menit tergantung dari volume bahan yang disterilkan.



Sterilisasi media yang terlalu lama dapat menyebabkan :
a. Penguraian gula.
b. Degradasi vitamin dan asam-asam amino.
c. Inaktifasi sitokinin zeatin riboside.
d. Perubahan pH yang berakibatkan depolimerisasi agar.
Autoklaf gas atau listrik portable pada umumnya mempergunakan sumber uap dari pemanasan air yang ditambahkan ke dalam autoklaf, sedangkan autoklaf besar pada laboratorium komersil pada umumnya menggunakan uap dari boiler sentral.

7. Kesimpulan
Berdasarkan data hasil pengamatan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sterilisasi peralatan kultur dilakukan dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1200 C pada tekanan 15-17,5 psi. selama 40 menit.

Senin, 09 Mei 2011

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR – DASAR FISIOLOGI TUMBUHAN
JARINGAN PENGANGKUTAN AIR
 
FATKHONUDIN
D1A009162

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2011

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Status air dan tumbuhan pada kecepatan relatif penyerapan air oleh akar dan
kehilangan air oleh transpirasi menyerupai air yang tidak cukup oleh akar
menimbulkan devisit air dalam tumbuhan, termasuk sel-sel daun, suatu devisit yang
mengakibatkan penurun evaporasi air dari daun sehingga transpirasi menjadi rendah.
Selain itu, transpirasi yang berlebihan juga dapat menimbulkan defisit air. Sistem
transportasi bekerja sebagai suatu unit yang cenderung menjaga agar sel tumbuhan
selalu dalam keadaan turgit atau segar.
Beberapa percobaan telah membuktikan bahwa keadaan air tanaman
tergantung atas kecepatan absorbsi air oleh akar dan kehilangan air oleh tranpirasi.
Transpirasi sebenarnya tidak lain dari kehilangan air yang disebabkan menguapnya
air dari sel-sel tumbuhan dan keluar melalui mulut daun dalam bentuk uap air.
Transpirasi yang terjadi secara besar-besaran mengakibatkan kekurangan air bagi
tanaman.
Transportasi air dalam batang tanamn adalah melalui jaringan-jaringan dalam
tubuh tanaman. Dan bagai mana pergerakan air kedaun. Kekurangan air menurunkan
perkembanganvegetatif dan hasil panen dengan cara mengurangi pengembangan
daun dan menurunkan proses fotosintetis.
Penurunan air selama inisiasi pembangunan, penyerbukan aitau
perkembangan biji mungkin sangat menurunkan jumlah atau hasil dari produksi
tanaman itu sendiri. Jumlah evapotranspirasi dari suatu tajuk tanaman budidaya
merupakan fungsi landaian potensial air dari dalam tanah sampai keudara bebas dan
tahanan terhadap aliran melalui tanaman atau dari permukaan tanah.
B. Tujuan
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui jaringan apa yang berfungsi untuk
pengangkutan air dari akar kedaun.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Allamanda cathastica merupakan tumbuhan yang banyak tumbuh didaerah
tropis. Umumnya tanaman ni tumbuh didaerah dingin dan cukup air. Tanamn ini
tidak dapat tumbuh didaerah tanah yang jenuh atau tergenang karena batang dan
daunya akan cepat membusuk, dan tanaman ini juga tidak dapat tumbuh didaerah
yang kurang air karena daun da batang nya akan mengerdil.
Tanamn ini juga merupakan tanaman yang mempunyai ciri yaitu dengan
bentuk daunya yang menyerupai bentuk payung dengan jumlah daun 3-4 lembar.
Tanamn ini merupakan tanaman yang mempunyai bunga berwarna kuning yang
bentuknya menyerupai terompet. Dan mempunyai kar tunggang sehingga merupakan
tanman dicotyledon. Pada daun muda warna daun yaitu hujau muda sedangkan pada
daun tua berwarna hijau tua atau hujau gelap.
Jaringan Pengangkut Air
Pembuluh xilem berasal dari sel-sel silindris yang biasanya mengarah
keujung-ujung. Pada saat matang dinding sel-sel itu melarut dan kandungan
sitoplasmiknya mati. Hasilnya adalah pembuluh xilem, saluran bersambung yang
tidak mati. Hasilnua adalah pembuluh xilem bersambung dengan transpor air dan
mineral keatas (Kimball, 1992).
Xilem dan floem dikelilingi oleh satu lapisan sel-sel yang hidup yang disebut
dengan perisikel. Jaringan vaskuler dan parisikel mebentuk suatu tabung yang
disebut stele. Disebelah luar stele terdapat sel-sel endodermis, pada bagian dinding
transversalnya dean juga pada dinding radialnya terdapat suberin yang menebal,
dikenal dengan pita kaspari.
Suberin mempunyai sifat yang tidak dapat ditembus air, lapisan luar
indodermis terdapat beberapa lapisan sel korteks yang bersifat permeabel, sehingga
besar kemungkinan air dari permukaan akan bergerak menuju pembuluh xilem
melalui dinding sel korteks tersenut ( Lakitan, 1995 ).
Pergerakan air pada akar melalui linatasan radian dengan konsep apoplas dan
simplas, lalu masuk kedalam pembuluh xilem untuk dibawa kedaun, naiknya cairan
atau air krena adanya tenaga pendorong (driving force ), hidrasi pada dinding
pembuluh xilem untuk dibawa kedaun, hidrasi pada dinding pembuluh yang
dilaluinya, dan gaya kohesi antar molekul air yaitu absorbsi aktiv. Terjadi bilamana
kelembaban tanah tersebut tinggi dan tumbuhan melakukan transpirasi yang renadah.
Dalam kondisi tersebut, absorbsi air dinyatakan terutama akibat osmosis,
walaupun mekanisme lain mungkin terlibat. Yang kedua adalah absorbsi pasif,
terjadi bilamana mengalami transpirasi yang sangat tinggi. Pada kondisi tersebut,
absorbsi aktif tidak berfungsi kerena gerakan air yang cepat melalui akar akn
menghanyutkan solut yang menentukan dalam absorbi aktif. Mungkin juga transpirsi
yang cepat menguras air dan menurunkan tekanan turgor dalam sel akar hidur
sehingga perembesan solut menjadi menurun. Dalam kondisi transpirasi yang cepat
kondisi kehilngan air cenderung melampaui absorbsi, dan kolom air dalm sel
pembuluh mengalami tegangan. Dan kemudian tegangan tersebut akan dilanjutkan
keakar (Sutami, 1984)
Fungsi air sebagai larutan ini penting sekali artinya bagi kehidupan
tumbuhan. Struktur molekul protein dan asam nukleat sangat ditentukan dengan
adanya molekul air disekitarnya. Aktivitas senyawa lain didalam protoplasma juga
sangat ditentukan kandungan air (Kimball, 1998).
Untuk menyatakan status air atau perimbangan air dalam tubuh tumbuhan
dapat dilakukan dengan dua cara yang umum digunakan, yaitu satu diantaranya
berdasarkan atas energi air didalamnya jaringan tumbuhan yang lazim disebut
potensial air, dan ini merupakan cara yang paling tepat untuk menentukan status air
dari jaringan tanaman dengan memakai istilah potensial air.
Suatu jaringan akan mengalami defisit air jika potensial air tersebut kurang
atau lebih dari 0 (nol) bar. Cara yang kedua adalah dengan mengukur kuantitas air
dari suatu jaringan kandungan airnya dan menyatakan dengan kondisi standart
tertentu ( Zuljati, 1997 ).

III. Alat, Bahan dan Cara Kerja
A. Alat dan Bahan
Adapun bahan yang digunakan adalah :
1). Tanamn Alamanda, 2). Vasellin, 3) air.
Dan alat yang digunakan adalah :
1). gabus, 2). Pisau, 3). Botol selai,
B. Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum ini yaitu :
1. Pilih 3 cabang berdaun dari tanman alamanda. Potong cabang-cabang
tersebut sedemikian rupa sehingga apabila dimasukan kedalam botol, mak jarak
bekas potongan dengan dasar botol 61 cm
2. Kuliti ketiga cabang tersebut sepanjang 3 cm dari bekas potongan
 cabang pertama untuk perlakuan kontrol
 cabang kedua untuk perlakuan xilem tertutu, yaitu dengan mengolesi
ujung cabang bekas potongan dengan vaselin
 cabang ketiga untuk perlakuan floem tertutup, yaitu dengan mengolesi
bagian yang dikuliti dengan vaslin sampai batas ujung cabang.
3. Ratakan vaslin
4. Isi botol dengan air distilasi, masukan cabang kedalam lubang pada sumbat
gabus dan tutupkanlah sumbat tersebut pada botol. Berilah tanda tinggi
permukaan air pada saat percobaan dimulai
5. Amati setelah 48 jam dan sesudah 1 minggu. Pengamatan meliputi tinggi
permukaan air dan kedalaman cabang tanamn.
 
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Data pake data kalian sendiri yaccccccchhhhhh
B. Pembahasan
Air merupakan senyawa yang dibentuk dalam jumlah yang besar, baik untuk
tumbuhan, manusia, maupun hewan. Bagi tumbuhan, air sangat dibutuhkam untuk
perkembangan dari tumbuhan ataupun tanaman tersebut. Pada praktikum jaringan
pengangkut air mempunyai tujuan yaitu untuk melihat proses transpor air dari akar
kedaun melalui xilem.
Status air dan tumbuhan pada kecepatan relatif penyerapan air oleh akar dan
kehilangan air oleh transpirasi menyerupai air yang tidak cukup oleh akar
menimbulkan devisit air dalam tumbuhan, termasuk sel-sel daun, suatu devisit yang
mengakibatkan penurun evaporasi air dari daun sehingga transpirasi menjadi rendah.
Selain itu, transpirasi yang berlebihan juga dapat menimbulkan defisit air.
Sistem transportasi bekerja sebagai suatu unit yang cenderung menjaga agar
sel tumbuhan selalu dalam keadaan turgit atau segar.Pergerakan air pada akar
melalui linatasan radian dengan konsep apoplas dan simplas, lalu masuk kedalam
pembuluh xilem untuk dibawa kedaun, naiknya cairan atau air krena adanya tenaga
pendorong (driving force ).
Hasil yang diperoleh dari praktikum terlihat pada tabel hasil praktikum.
Diantaranya terdapat keterangan dari perlakuan yaitu kontrol, xilem tertutup dan
floem tertutup. Air diserap melalui akar bersama sama dengan unsur hara yang
terlarut didalamnya. Untuk dapat diserap molekul-molekul air harus berada pada
permukaan akar.
Pada praktikum ini, batang alamanda yang telah dimasukan kedalam botol
selai, ditutup dengan vaselin. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya
transpirasi secar besar-besaran atau berlebiahan. Transpirasi merupakan proses
kehilangan atau hilangnya kandungan air pada tanamn berupa uap dari jaringan
tumbuhan melalui stomata.
Tapi hasil yang di peroleh dari praktikum ingin saat idak baik karena ada
kesalahan pada saat pemberian Vaseline, sehingga tanaman ada yang mati.
 
V. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang diambil dari praktikum ini adalah :
1. Hasil yang diperoleh dari praktikum terlihat pada tabel hasil praktikum.
Diantaranya terdapat keterangan dari perlakuan yaitu kontrol, xilem tertutup dan
floem tertutup.
2. Pada praktikum ini, batang alamanda yang telah dimasukan kedalam botol
selai, ditutup dengan vaselin.
3. Pada praktikum jaringan pengangkut air mempunyai tujuan yaitu untuk
melihat proses transpor air dari akar kedaun melalui xilem.
4. Xilem dan floem dikelilingi oleh satu lapisan sel-sel yang hidup yang disebut
dengan perisikel. Jaringan vaskuler dan parisikel mebentuk suatu tabung yang
disebut stele.

DAFTAR PUSTAKA
  • Dwijoseputro. 1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.
  • Lakiatan, B. 1994. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Universi Sriwijaya.Palembang.
  • Prawiranta, W et al. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Departemen BotaniFakultas Pertanian IPB. Bogor
  • Salisburry, F.B dan C. W. Ross. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Penerbit ITB.Bandung
  • Sutarmi Tjitrosmo, Siti. 1984. Botani Uum II. Angkasa. Bandung